PASANGKAYU, Mediasuaranegeri.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Duripoku kembali menuai sorotan dari warga. Sejumlah orang tua penerima manfaat di Desa Saptanajaya mempertanyakan kualitas makanan yang dibagikan kepada kelompok sasaran seperti balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.
Salah satu orang tua penerima manfaat yang enggan disebutkan identitasnya mengaku kecewa dengan menu yang diterima anaknya. Ia menilai kualitas makanan tersebut tidak mencerminkan standar makanan bergizi yang seharusnya diberikan kepada kelompok rentan.
“Puding basi, ubi bergetah masih bisakah disebut bergizi? Apalagi dikonsumsi untuk anak balita di bawah usia lima tahun, ibu hamil, dan ibu menyusui,” ujarnya dengan nada kecewa saat dikonfirmasi melalui via chatting whatsapp, Senin 9 Maret 2026.
Menurutnya, program yang sejatinya bertujuan meningkatkan asupan gizi masyarakat itu seharusnya dijalankan dengan standar kualitas yang ketat. Ia menilai, jika pengelolaan menu dilakukan dengan serius, persoalan seperti ini seharusnya tidak terjadi.
Ia bahkan menyarankan agar pengelola program mengambil referensi dari buku menu Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang selama ini digunakan di posyandu. Dalam buku tersebut, kata dia, tersedia beragam menu yang sederhana, murah, namun tetap memenuhi unsur gizi.
“Sekadar saran, kalau mau cari menu ada buku menu PMT yang biasa dipakai di posyandu. Di sana menu-menunya bervariasi dan tentunya bergizi serta murah meriah. Itu bisa dijadikan referensi,” tambahnya.
Warga berharap kejadian ini menjadi bahan evaluasi bagi pihak terkait agar ke depan makanan yang disajikan benar-benar memenuhi standar gizi, terutama karena penerimanya adalah balita dan ibu hamil yang membutuhkan asupan nutrisi yang baik.
“Ini harus jadi evaluasi. Ke depan benar-benar disuguhkan makanan yang bergizi, apalagi untuk balita dan ibu yang sedang hamil,” tandasnya.
Kritik serupa juga datang dari sumber lain yang sempat melihat langsung kondisi makanan tersebut. Ia mengaku sempat memotret puding yang dibagikan kepada penerima manfaat.
“Kebetulan saya foto tadi pudingnya. Kalau anak saya memang tidak basi, tapi rasanya agak asam, mungkin karena campuran buah naga. Saya sempat cicip sedikit, memang agak asam-asam, tapi saya tidak berani memastikan basi atau tidak karena langsung saya kasih ayam,” ungkapnya.
Sejumlah warga berharap pihak pengelola program MBG di Kecamatan Duripoku dapat melakukan pengawasan lebih ketat terhadap kualitas makanan sebelum didistribusikan kepada masyarakat. Mereka juga meminta agar tenaga ahli gizi yang terlibat benar-benar menjalankan perannya secara profesional.
“Supaya ahli gizi benar-benar mempergunakan ilmunya untuk kepentingan orang banyak,” pungkasnya.
Setelah berita ini ditayangkan, pihak pengelola program MBG di Kecamatan Duripoku yang dimaksud belum dapat dikonfirmasi untuk memberikan keterangan terkait keluhan warga tersebut. Warga pun berharap ada klarifikasi sekaligus perbaikan agar tujuan program peningkatan gizi masyarakat benar-benar tercapai.
Dirman
***