PASANGKAYU, Mediasuaranegeri.com – Rentetan bencana banjir dan tanah longsor yang belakangan ini kerap melanda berbagai wilayah diduga kuat merupakan dampak langsung dari kerusakan ekosistem. Selain penggundulan hutan, aktivitas tambang Galian C (tanah urug) yang kian masif dituding menjadi pemicu utama rusaknya bentang alam.
Pantauan media ini di lapangan melalui Anjungan Maleo Pasangkayu, nampak pemandangan yang memprihatinkan. Gunung yang terletak di Desa Ako Pasangkayu, kini tampak gundul, hampir separuh bagian bukitnya telah habis dikeruk oleh aktivitas pertambangan.
Ancaman Nyata bagi Fasilitas Publik, ironisnya, eksploitasi lahan ini dilakukan di lokasi yang sangat strategis sekaligus berisiko tinggi. Titik pengerukan Galian C tersebut diketahui berada sangat dekat dengan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Pasangkayu.
Kondisi ini memicu kekhawatiran serius di tengah masyarakat. Tanpa vegetasi penahan air dan struktur tanah yang kian labil akibat pengerukan, potensi longsor mengintai kapan saja, terutama saat intensitas hujan tinggi.
Sorotan tajam dari Pemerhati Lingkungan menanggapi hal tersebut, ia menilai aktivitas tambang yang terlalu dekat dengan fasilitas publik dan pemukiman merupakan bentuk pengabaian terhadap aspek keselamatan lingkungan (AMDAL).
“Ini adalah bom waktu. Pengerukan gunung di Desa Ako itu tidak hanya merusak estetika alam, tapi menghancurkan struktur penyangga tanah. Sangat tidak masuk akal ada aktivitas galian berat di dekat RSUD. Jika terjadi longsor, siapa yang akan bertanggung jawab atas keselamatan pasien dan infrastruktur negara di sana?,” ujar perwakilan pemerhati lingkungan yang enggan disebut namanya. Minggu, 25 Januari 2026.
Selain itu, Ia juga mendesak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan pihak kepolisian untuk segera mengecek legalitas serta jarak aman operasional tambang tersebut.
Warga dan pengguna jalan was-was, tidak hanya dirasakan oleh pihak manajemen rumah sakit, namun juga merambah ke pengguna jalan yang melintas di area tersebut.
“Kami khawatir kalau hujan deras turun terus-menerus. Gunung sudah gundul begitu, risiko longsor sangat besar. Apalagi ini dekat sekali dengan RSUD dan jalan utama,” ujarnya.
Hal itu membuat masyarakat mendesak pihak berwenang untuk meninjau kembali izin lingkungan aktivitas tambang di Desa Ako tersebut. Perlunya langkah mitigasi segera menjadi harga mati sebelum bencana yang lebih besar menelan korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur daerah.
Hingga berita ini tayang, media ini akan melakukan konfirmasi ke dinas terkait maupun pihak pengelola galian C atas tambang tersebut. (Tim)
***