BERITA SULBAR

Tambang Pasir Milik CV Maju Bersama di Sungai Lariang Disorot, Pengelola Bantah Lakukan Penimbunan Sungai

Ft.Ist (Int.google)

PASANGKAYU, Mediasuaranegeri.com – Aktivitas tambang pasir di Sungai Lariang, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi barat, kembali menuai sorotan publik terkait dugaan penimbunan badan sungai yang dilakukan oleh CV Maju Bersama, sehingga memicu kekhawatiran akan dampak lingkungan.

Menanggapi hal tersebut, H. Suardi selaku pemilik tambang dengan tegas membantah seluruh tudingan yang dialamatkan kepadanya. Ia menyebut isu penimbunan sungai tersebut tidak berdasar dan sarat kepentingan.

“Itu tidak benar. Tuduhan itu hanya bentuk kecemburuan sosial. Tidak masuk akal kalau sungai dibilang ditimbun, sementara setiap hari disedot ribuan kubik pasir. Kalau benar ada penimbunan yang merusak lingkungan, tentu sejak lama sudah ditutup,” tegas H. Suardi kepada media ini saat dikonfirmasi. Jumat, 23 Januari 2026.

Selain itu, H. Suardi juga menjelaskan bahwa pendangkalan yang terjadi di salah satu titik Sungai Lariang bukan disebabkan oleh aktivitas tambangnya. Menurutnya, hanya saja ada satu perusahaan di sekitar lokasi miliknya dengan luas sekitar 1,4 hektare mengalami pendangkalan di area tersebut justru terjadi karena perusahaan itu berhenti beroperasi.

“Bagaimana mungkin Sungai Lariang ditimbun? Batu gajah saja bisa hanyut di sungai ini. Bahkan material batu besar digunakan oleh Balai untuk pembangunan tanggul penguatan tebing. Jadi untuk apa menimbun sungai?,” ujarnya.

Justru selama beberapa tahun terakhir, lanjut H. Suardi, itu sudah tidak terjadi banjir karena kondisi sungai telah normal. Adapun di titik-titik tertentu memang terjadi pendangkalan yang berubah menjadi sungai mati.

“Area tersebut sebelumnya merupakan daratan, lalu berubah menjadi sungai akibat abrasi, dan kini kembali menjadi daratan karena pulau di tengah sungai mengalami longsor dan semakin mengecil akibat terus disedot setiap hari,” ujarnya.

H. Suardi mengaku tidak heran dengan munculnya tudingan tersebut. Ia menilai, isu-isu semacam ini kerap muncul akibat persaingan usaha yang tidak sehat.

“Kalau sudah soal persaingan, pasti ada saja kecemburuan sosial. Ada juga pihak yang berulang kali melaporkan, tapi tidak pernah bisa membuktikan laporannya,” katanya.

Meski terus dirongrong isu negatif, H. Suardi menegaskan bahwa dukungan masyarakat sekitar menjadi kekuatan utama bagi keberlangsungan usahanya. Menurutnya, warga setempat memahami betul aktivitas tambang yang dilakukan dan dampaknya terhadap kehidupan mereka.

“Dari dulu saya sudah sering diterpa isu seperti ini. Tapi masyarakat di sini solid, mereka menjaga dan mempertahankan, karena sumber penghidupan mereka ada di sini,” pungkasnya.

Dirman

***

The Latest

To Top