BERITA SULBAR

Ditengah Pandemi, Karyawan PT Mamuang Ikhlas Saling Berbagi

Ket foto: Ilst. buah kelapa sawit

SUARANEGERI || PASANGKAYU – Di tengah masa pandemi Covid-19, ketika ketahanan pangan dan goncangnya ekonomi menjadi problematika utama, namun ada sekelompok masyarakat yang tergerak untuk membagikan sedikit rejeki mereka.

Realitas itu terlihat dari kegiatan karyawan PT Mamuang di Pasangkayu, Sulawesi Barat. Mereka dengan suka rela menyisihkan jatah beras mereka dari perusahaan untuk membantu Desa sekitar mesipun mereka juga mengalami dampak yang sama akibat pandemi ini.

“Kita sudah dikasi rejeki dan kesehatan sampe hari ini. Kita juga bersyukur masih ada pekerjaanta dan bergajiki juga di perusahaan. Tidak mau ki egois, ini rasa syukur ta pada Tuhan yg sudah kasih ki rejeki seperti ini, ” Kata Ubaid, Mandor Rawat afdeling Lima PT Mamuang.

Tanpa disuruh, Pria yang juga menjabat sebagai ketua serikat pekerja UK SPTP, menghimpun anggotanya agar ikut berpartisipasi menyumbangkan bantuan kecil ini setiap bulannya. “Kita ikhlas, semoga bantuan kecil yang kita kumpulkan ini, bisa ji meringankan saudara-saudara ta, ” Tambahnya.

Ia pun berharap agar pandemi ini segera berakhir dan keadaan bisa menjadi normal kembali.

“Kegiatan sosial ini sudah dilakukan semenjak bulan Januari lalu dan telah didistribusikan langsung ke Desa Martasari, Desa Pajalele, Desa Polando Jaya, yayasan panti asuhan dan masyarakat lanjut usia yang terdata di beberapa desa,” pungkasnya.

Ikatan sosial di tengah masyarakat.

Tentu rasa peduli dikalangan karyawan itu tidak serta-merta. Salah satunya, Ketika peristiwa gempa besar di Palu 2 tahun lalu, masyarakat desa dan karyawan PT Mamuang juga sudah saling bahu membahu melewati kondisi itu. Waktu itu, hampir setiap hari ada bantuan dari masyarakat ke PT Mamuang untuk dikirimkan ke Palu.

Bahkan jauh sebelum itu, Menurut Kades Desa Martasari, I Wayan Sucana menyampaikan bahwa ikatan sosial ini terjadi semenjak hadirnya perusahaan perkebunan kelapa sawit. Wayan dan keluarganya bertransmigrasi sejak tahun 1987 ke desa Martasari ini dan ia menyaksikan sendiri bukan hanya ikatan ekonomi namun juga ikatan sosial ini terbentuk sejak PT Mamuang hadir awal tahun 1990an.

Ia menilai bahwa ikatan tidak mungkin terbentuk dalam jangka waktu singkat. “Bukan soal perusahaan dan masyarakat lagi, namun semuanya sudah menjadi sebuah ikatan seperti saudara,” kata Wayan. [Ed/Man]

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top