MAMUJU, Mediasuaranegeri.com – Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Sulawesi Barat (BI Sulbar) memproyeksikan ekonomi Sulbar pada 2026 tumbuh di kisaran 5,00–6,10 persen (ctc). Namun di balik optimisme tersebut, BI memberi perhatian serius pada tekanan inflasi serta peningkatan rasio kredit bermasalah (NPL) segmen UMKM.
Paparan tersebut disampaikan dalam kegiatan SIPAKADA Media: Sinergi dan Kolaborasi Diseminasi Perekonomian Terkini, di salah satu caffe yang ada di kota Mamuju. Rabu 18 Februari 2026.
Inflasi Sulbar 4,34 persen, Mamuju tembus 6,94 persen pada Januari 2026, inflasi Sulawesi barat tercatat 0,71 persen (mtm) dengan inflasi tahunan mencapai 4,34 persen (yoy). Angka ini berada di atas sasaran nasional 2,5±1 persen.
Secara spasial, inflasi tertinggi terjadi di Mamuju sebesar 6,94 persen (yoy), sementara Majene tercatat 2,69 persen (yoy).
Komoditas penyumbang inflasi antara lain cabai merah, bawang merah, cabai rawit, dan jeruk nipis. BI menilai faktor pasokan dan distribusi masih menjadi tantangan utama, khususnya menjelang periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
Sebagai respons, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan mengoptimalkan Gerakan Pangan Murah (GPM) dengan target 110 kali pelaksanaan pada 2026, subsidi ongkos angkut, serta penguatan komunikasi publik melalui Gerakan Bersama Jaga Inflasi (GERAI).
Kredit UMKM tumbuh, tapi risiko meningkat dari sisi sistem keuangan, pertumbuhan kredit Sulbar pada triwulan IV 2025 mencapai 6,87 persen (yoy), sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 10,22 persen (yoy).
Kredit UMKM pada 2025 tercatat Rp8 triliun atau tumbuh 1,27 persen (yoy). Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) mencapai Rp3,88 triliun atau tumbuh 4,73 persen (yoy). Namun, rasio NPL kredit UMKM tercatat 3,59 persen. BI menilai kondisi ini perlu diantisipasi melalui penguatan mitigasi risiko dan peningkatan kualitas pembiayaan.
Kredit rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan perbankan dengan NPL relatif rendah di kisaran 1 persen, sementara kredit korporasi menunjukkan perlambatan dengan NPL yang cenderung stagnan pada level lebih tinggi.
Sawit dan Infrastruktur jadi penentu 2026 dari sisi riil, ekonomi Sulbar triwulan IV 2025 tumbuh 6,55 persen (yoy), lebih tinggi dari nasional. Sepanjang 2025, pertumbuhan mencapai 5,36 persen (ctc).
Sektor pertanian, industri pengolahan berbasis CPO, dan perdagangan menjadi motor utama. Namun, rencana peremajaan (replanting) kebun sawit berpotensi menekan produksi TBS pada 2026.
Di sisi lain, sektor konstruksi diproyeksikan menguat seiring kelanjutan proyek infrastruktur seperti pembangunan jalan daerah dan Bendungan Budong-Budong.
BI menegaskan komitmennya menjaga stabilitas melalui bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran, sekaligus memperkuat pengembangan UMKM, ekonomi syariah, dan digitalisasi transaksi di Sulawesi Barat.
Dirman
***