POLHUKAM

Diduga Ada Pungli Saat PSB di SMAN 6 Palembang, Massa SCW Desak Ombudsman Periksa Kepala Sekolah

MSN.com, Palembang – Diduga ada permainan jual bangku pada penerimaan siswa baru (PSB)  tahun ajaran 2018 membuat Sriwijaya Corruption Watch (SCW)  Sumsel menggelar aksi demo di Kantor Ombudsman Perwakilan Sumsel, Rabu (18/7).

Mereka meminta Ombudsman Perwakilan Sumsel memanggil Kepala SMAN 6 terkait transparansi penerimaan Peserta Didik Baru tahun ajaran 2018.

Koordinator Aksi M Almi, mengatakan di sekolah itu ada 320 orang yang diterima melalui jalur tes. Untuk jalur PMPA sebanyak 30 orang.  Namun siswa yang diterima totalnyo 400 orang. “Sisanya 50 orang itu tidak tidak jelas dari jalur apa masuk ke SMAN 6,” ujarnya.

Lebih lanjut Almi menjelaskan,  siswa yang diterima di SMAN 6, orang tua siswa diminta uang bangunan Rp  5.250.000, SPP 400 ribu perbulan dan uang seragam 1.550.000 . “Bahasa dari diknas itu uang iuran dan sumbangan.  Tapi menurut kami itu pungli.  Orang tua siswa berat membayarnya.  Bahkan ada orang tua siswa yang meminjam uang dengan rentenir,” bebernya.

Almi mengungkapkan, orang tua siswa langsung disodorkan uang iuran dan pungutan, ketika anak dinyatakan lulus.  Hampir 50 persen wali murid keberatan.  Tapi mereka takut melapor.  “Mereka kecewa Pemprov Sumsel yang menggaungkan sekolah gratis.  Tapi kenyataannya tidak gratis,” ucapnya.

Asisten Ombudsman Perwakilan Sumsel, Rahadian Wisnu mengatakan, pihaknya senang menerima laporan masyarakat.  “Kami terima laporan ini.  Indikasi pungutan itu ditetapkan,  nah SMAN 6 ini ditetapkan pembayaran sampai Juli.  Angkanya jelas,  sepintas ini tidak sesuai Permendikbud nomor 75 tahun 2016,” tandasnya.

Ketika dikonfirmasi Kepala SMAN 6 Palembang, Maryati mengatakan, siswa kelas 10 yang diterima dalam PPDB tahun ini 10 kelas,  dimana setiap kelas berisi 36 siswa.  Jadi tidak benar kalau ada yang menyatakan jumlah siswa yang diterima PPDB tahun 400 orang.  “Sebelum meminta sumbangan sarana dengan orang tua siswa,  kami undang seluruh orang tua siswa.  Memang ada yang keberatan.  Akhirnya yang mau menawar tanggal 9 Juli wawancara dengan komite.  Disitu bisa menawar uang sumbangan sarana, ada yang tidak bayar uang sumbangan sarana,  ada menyumbang diatas Rp 5 juta.  Tapi sumbangan itu disesuaikan dengan kemampuan orang tua siswa, ” pungkasnya. (ari/krw)

Sumber: kabarrakyat

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top